Salah
satu makar orang kafir adalah hendak menjadikan kaum muslimin
berpandangan negatif terhadap agamanya sendiri. Mereka menampakkan Islam
ini sebagai agama kuno, agama orang kampung, agama kaum pinggiran,
agama orang-orang miskin, agama orang-orang yang mencuri sandal di
masjid, agama yang suka kekerasan, agama yang merendahkan kaum wanita,
dan berbagai bentuk image buruk lain yang mereka pasangkan dengan agama
Islam ini. Sehingga kita dapati, banyak diantara saudara-saudara kita
yang merasa malu dengan Islam, tidak menampakkan identitas
kemuslimannya, mudah melakukan tasyabuh (peniruan) terhadap orang kafir,
tidak bangga dengan Islam, bahkan mereka bangga dengan meniru-niru
kebudayaan orang kafir, mereka lebih membanggakan tokoh-tokoh kafir
dibandingkan dengan tokoh kaum muslim sendiri.
Padahal
sesungguhnya Islam merupakan nikmat paling agung yang dikaruniakan
Allah tidak kepada semua hambanya. Berbeda dengan nikmat lain, yang
berupa makanan atau rizki, Allah berikan kepada semua hamba-Nya, baik
manusia (baik kafir ataupun mukmin), binatang, ataupun tumbuhan.
Sedangkan Islam hanya diberikan kepada manusia pilihan saja. Jadi,
hendaknya kita mensyukuri nikmat Islam ini, agar Allah tidak
mencabutnya dari diri kita.
Kita juga sering mendengar
ceramah-caramah para dai, mengingatkan agar kita mensyukuri nikmat
Islam, yang merupakan nikmat paling besar dari Allah. Tapi, banyak
diantara kita yang masih lalai akan nikmat tersebut. Hal ini karena
masih banyak diantara kaum muslimin yang belum paham tentang Islam.
Sehingga di tengah gencarnya pemurtadan yang dilakukan oleh para
misionaris, banyak dari saudara-saudara kita yang belum paham akan
nikmat Islam sehingga menjadi mangsa mereka. Padahal, sungguh merupakan
kecelakaan yang besar ketika seseorang berpaling dari Islam,
sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Qs. Al-Baqarah: 217, yang
artinya,
“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari
agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang
sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni
neraka, mereka kekal di dalamnya.”
Agar kita bangga dan
bersyukur akan nikmat Islam ini hendaknya kita tahu, apa itu Islam, dan
apa kelebihan-kelebihannya jika dibandingkan dengan agama lain,
sehingga syukur kita ini, tidak hanya di lisan, tapi juga di hati,
yaitu berupa keyakinan yang mangakar kuat akan kebenaran Islam, serta
dilaksanakan dalam perbuatan-perbutan untuk melaksanakan konsekuensi
dari Islam.
Makna Islam
Ulama mengartikan Islam dengan berbagi makna, antara lain:
- Iman
dan tho’at, ini adalah pendapat Abul Aliyah, jumhur ulama (Tafsir
Al-Qurthubi 3/43, Tafsir Fathul Qodir, Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah
7/266,7/365)
- Mengamalkan rukun Islam yang lima (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 7/365).
- Istislam (menyerahkan diri) kepada Allah dan melaksanakan perintahnya (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 7/426).
- Mengikuti
risalah Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya dengan melaksanakan
yang wajib maupun sunnah, serta meninggalkan larangan-Nya (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 27/63).
- Membendung perbuatan keji dan mungkar (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 32/122)
- Mentauhidkan Allah, karena syahadat mengandung tauhid (Madarijus Shalikin 3/475).
- Keyakinan
hati, beramal, dan menyerahkan segala urusan kepada ketentuan Allah
sebagaimana Allah mensifati Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dalam Qs.
Al-Baqarah: 131,
“Ketika Rabb-Nya berfirman kepadanya ‘aslim
(tunduk patuhlah)!’, Ibrahim menjawab, ‘aslamtu lirobbil’alamiin (aku
tunduk patuh kepada Rabb semesta alam’.”
- Islam adalah berserah diri pada Allah dengan tauhid, tunduk dengan ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan ahlinya (Al-Ushul Ats-Tsalatsah, Syaikh Abdul Wahab At-Tamimi).
Masih
banyak kita jumpai sebagian dari kaum muslimin yang mengaku Islam
hanya sebagai formalitas saja, Islam KTP, seakan-akan hanya dengan
bermodalkan KTP Islam saja, mereka yakin akan selamat di hari kiamat
kelak. Padahal Islam yang dapat menyelamatkan kita adalah Islam yang
meliputi ketiganya, yaitu keyakinan di hati, diucapkan, dan
melaksanakan konsekuensinya, seperi yang tersirat dari makna Islam yang
telah diuraikan di atas.
Bukti Kebenaran Islam
- Peraturan/kitabnya tidak berubah
Kebenarannya dijaga oleh Allah, tidak ada satupun makhluk yang dapat mengubahnya.
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya, Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya kamilah yang benar-benar memliharanya.” (Qs. Al-Hijr: 9)
Sedangkan
kitab maupun peraturan agama lain tidak pernah terlepas dari
perubahan, ini menunjukkan ketidaksempurnaan yang ada pada selain
Al-Quran (Islam).
- Islam berdasarkan wahyu
Islam
bukanlah hasil pemikiran dan karya manusia, bukan penemuan, ataupun
hasil musyawarah, ia adalah wahyu dari Allah yang diturunkan kepada
utusan-Nya, Rasulullah Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam.
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali-Imran: 19)
- Islam diakui oleh tokoh Nasrani
Heraklius, raja Romawi, mengakui bahwa Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam,
nabi yang menyeru kepada Islam, adalah nabi akhir zaman yang sah
berdasar kitab Injil saat itu, seperti dinukil dalam perkataannya,
“Dan
sungguh aku yakin bahwa nabi akhir zaman ini tentu akan keluar, tapi
aku tidak mengira bahwa dia itu dari golonganmu (Arab). Andaikata aku
mengetahui aku bisa menemuinya, niscaya hal itu kuanggap sebagai
sesuatu yang agung. Bila aku berada di sisinya aku akan basuh kedua
telapak tangannya, sungguh kerajaannya akan merebut apa yang kumiliki
ini.” (HR. Bukhari)
- Banyak orang kafir yang masuk Islam
Kebanyakan
orang kafir masuk Islam karena mengetahui kebenaran di dalamnya,
berbeda dengan orang murtad yang meninggalkan Islam karena kebodohan
dan rakus dunia. Mereka adalah orang-orang yang tidak mendapat
petunjuk, karena sesungguhnya Islam adalah petunjuk.
- Penukil Islam diabadikan sepanjang masa
Islam
yang sampai pada zaman sekarang ini, tidak seperti agama samawi
sebelumnya dan tidak seperti agama ciptaan manusia yang tidak ada bukti
sanadnya. Tetapi Islam, sampai pada kita dengan sanad yang terpercaya
yang dibukukan oleh hadits sepanjang masa. Ini juga merupakan bukti
penjagaan Allah terhadap Islam.
Bukti Kesempurnaan Islam
1. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,
“Pada
hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. Al-Maidah: 3)
Turunnya
ayat ini menunjukkan telah sempurnanya Islam. Ini menujukkan rahmat
dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, yang memberikan petunjuk
dengan sangat sempurna, sehingga tidak akan tersesat orang yang mau
mengambilnya.
2. Islam membahas semua urusan
Islam tidak
hanya membahas urusan ibadah dengan Rabb-nya saja, tetapi menyangkut
tatanan semua hidup di dunia, seperti muamalah sesama manusia, sesama
makhluk yang lain, membahas kesehatan dan penjagaannya, bahkan membahas
urusan kebahagiaan di akhirat.
Hal ini dapat dibuktikan dalam
kitab hadits dan kitab fiqih, dibahas disana tatanan hidup di dunia,
dan upaya untuk menempuh kebahagiaan di akhirat. Salah satu contohnya
adalah riwayat dari Salman Al-Farisi
radliyallahu ‘anhu, berkata,
“Kami pernah ditanya oleh orang musyrik, ‘Sesungguhnya aku melihat temanmu (Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam)
mengajarkan bagimu (segala sesuatu) bahkan mengajarkan kepadamu tata
cara buang air?’ Lalu Salman menjawab, “Benar, beliau melarang salah
satu diantara kami beristinja’ dengan tangan kanan, atau mengahadap
kiblat, beliau melarang beristinja’ dengan kotoran binatang atau
tulang, beliau bersabda,’ Janganlah salah satu diantara kamu
beristinja’ kurang dari tiga batu’.” (HR. Muslim: 386)
3. Islam menolak tata cara ibadah baru
Karena
Islam telah sempurna, maka Islam menolak ibadah baru yang berupa
penambahan, pengurangan, dan perubahan atau perkara baru, sekalipun
bertujuan baik dan dinilai oleh umat sebagai sesuatu hal yang baik.
Karena suatu kebaikan tidak dipandang dari penilaian umat (orang
banyak), tapi kebaikan adalah berdasarkan syariat, dan kita harus yakin
bahwa apa-apa yang telah ditetapkan syariat adalah baik dan telah
sempurna, sehingga tidak perlu ditambahi, dikurangi, atau diubah lagi.
Barang siapa yang melakukakannya berarti telah mendustai kerasulan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Barangsiapa mengadakan cara baru dalam perkara diin kami, maka tertolak.” (HR. Muslim 2499).
4. Islam untuk semua makhluk
Agama Islam yang dibawa Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam
adalah agama untuk semua makhluk di penjuru dunia dan berlaku sampai
hari kiamat, berbeda dengan agama para rasul sebelumnya yang terbatas
waktu dan pemeluknya. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,
“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk rahmat bagi semesta alam.” (Qs. Al-Anbiya’: 107)
5. Islam menghapus agama samawi yang lain
Ibnu Kaisan berkata, firman Allah yang artinya,
“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” Menunjukkan
semua agama yang dahulu diganti, karena kalimat agama ini jatuh di
awal ayat, sedangkan yang akhir sebagi badal (penggantinya) yaitu
Islam. Jadi, agama-agama yang awal sudah tidak dipakai lagi,
barangsiapa yang masih mengambilnya, dan mengatakan agama lain juga haq
(semua agama sama) maka sesungguhnya ia telah mendustakan ayat-ayat
Allah dan merupakan kekafiran.
Keistimewaan Islam
- Islam menghendaki kemudahan
Syariat
di dalam Islam sesungguhnya adalah mudah, jika dibandingkan dengan
syariat agama yang lain, karena sesungguhnya Islam adalah agama fitrah,
dimana ia akan mudah bagi orang-orang yang masih lurus fitrahnya.
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Qs. Al-Baqarah: 185)
- Memerintah menurut kemampuan
Allah
Ta’ala berfirman, yang artinya, “Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Qs. Al-Baqarah: 286)
Misalnya,
orang yang tidak mampu sholat dengan berdiri, boleh dengan duduk,
tidak mampu puasa boleh mengganti di hari lain atau membayar fidyah,
tidak mampu mengeluarkan zakat, maka dia berhak mendapatkan bagian
zakat, dan seterusnya.
- Tidak ada hukuman bagi orang yang lupa atau tidak tahu
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “(Mereka berdoa),’Ya Rabb kami, jangan engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.’” (Qs. Al-Baqarah: 286)
Kemudahan
Islam ini sangat berbeda dengan hukum manusia, jika sudah dikeluarkan
ketetapan, tahu atau tidak tahu, jika bersalah, umumnya tiada maaf
baginya, atau dimaafkan dengan uang.
- Islam mengajak umat bersatu
Islam
mengajak umat bersatu di atas tali (agama) Allah, yaitu berdasarkan
Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Salafush Shalih, bukan
bersatu karena keturunan, bangsa, suku, golongan, dan tempat. Allah
Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Qs. Ali-Imran: 103)
- Islam meninjau kemuliaan dari sisi amal
“Sesungguhnya Allah tidak melihat badanmu dan tidak pula penampilanmu, tetapi melihat hatimu dan amalmu.” (HR. Muslim 4650)
- Islam bukan nama orang dan tempat
Nama
Islam bukanlah nama nabi dan tempat, berbeda dengan agama lain,
kadangkala diambil dari nama tempat, suku, golongan, nama pendiri, nama
orang, misalnya Nasrani, Yahudi, Konghucu, Budha, Jahmiyah.
- Hukum Islam berlaku untuk pemimpin dan pengikut
Di
dalam Islam hukum berlaku untuk semua lapisan umat, tidak ada
keringanan untuk pemimpin, atau penindasan untuk rakyat sebagaimana
lazimnya peraturan manusia.
“Hai manusia, sesungguhnya
tersesatnya orang sebelummu, bila terjadi pencurian di kalangan orang
mulia (penguasa) mereka dibiarkan, tapi jika yang mencuri orang yang
lemah, mereka laksanakan hukuman. Demi Allah, andaikan Fathimah putri
Muhammad mencuri, tentu Muhammad akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari 6290)
Sempurnakan Syukurmu akan Islam
Subhanallah,
setelah kita mengetahui kebenaran, kesempurnaan, serta keistimewaan
Islam, tidak selayaknya kita melalaikan nikmat ini begitu saja.
Hendaknya kita mensyukuri nikmat ini dengan sebenar-benarnya syukur,
agar Allah tidak mencabut nikmat Islam dari kita.
Na’udzubillah.
Karena celakalah seseorang di dunia dan akhirat ketika ia keluar dari
Islam. Yang kedua kita bersyukur, agar Allah menambahkan nikmat Islam
kepada kita. Berupa apa? tentu saja berupa keimanan, penjagaan dan
karunia lain dari Allah.
Lalu bagimanakan syukur yang sempurna?
Syukur seseorang dianggap sah dengan tiga rukun, dia harus mengakui
nikmat Allah di hatinya, menyebut dengan lisannya, dan menggunakannya
dalam amalan. Seperti perkataan Ibnu Hazm,
“Orang
yang bersyukur dengan lisannya saja tanpa menyertakan anggota badannya,
seperti orang yang memiliki banyak pakaian, namun dia hanya memegang
bagian ujungnya, tanpa ia kenakan, praktis tidak bermanfaat baginya
untuk mengusir hawa dingin dan panas.”
Syukur Islam
dengan hati, hendaknya kita meyakini akan kebenaran Islam, tidak
mendustakannya. Syukur dengan lisan, hendaknya kita bangga menyatakan
keislaman kita, syukur dengan amal perbuatan hendaknya kita
melaksanakan konsekuensi-konsekuensi dari Islam, yaitu dengan berserah
diri kepada Allah semata, tidak menyekutukannya, tunduk terhadap
perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, yang disampaikan
melalui Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berlepas
diri dari orang-orang kafir (musyrik) yang menyekutukan Allah, tidak
menjadikan mereka sebagai wali atau sahabat dekat, serta berlepas diri
dari ahlu bid’ah, yang tidak mencukupkan diri dengan apa yang dibawa
Rasulullah
shalallahu’alaihi wa sallam.
Hendaknya kita
tidak menjadi orang munafik, yang menjadikan Islam sebagai sarana untuk
mendapatkan dunia, hanya mengambil Islam dari hal-hal yang sekiranya
menguntungkan untuk dunia saja, tapi menolak hal-hal yang tidak
menguntungkan baginya. Karena Islam adalah satu kesatuan. Islam
melazimkan untuk tunduk dan patuh dalam segala hal yang diperintahkan
oleh Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam
Qs. Al-Baqarah : 208,
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu
ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut
langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata
bagimu.”
Maraji’ : Al-Furqon, edisi 7 th III/ shofar 1425
***
Artikel muslimah.or.id